Pengalaman mencabut Geraham Bungsu (Wisdom Teeth) di Jepang, OUCH! (Part I)

Halloo semuaa.

Sudah lamaaa sekali saya tidak posting, dan postingan pertama adalah tentang cabut gigi! 😀 Hmm… Apa boleh buat ya. Soalnya menurut saya ini adalah salah satu pengalaman menarik yang mungkin akan saya kenang terus terus dan teruus!

Awalnya saya tidak tahu sama sekali bahasa Indonesia dari wisdom teeth. Jadi saya sempat cari dulu di kamus, dan ternyata bahasa Indonesia adalah geraham bungsu! Apa kalian familiar dengan kata ini? Karena saya tidak, hehehe.

 Anyway…!

Mencabut gigi adalah salah ketakutan terbesar saya, yang membuat saya juga jadi takut sama yang namanya dokter gigi. Akibatnya, saya berhasil (?)menghindari pergi ke dokter gigi kurang lebih 15 tahun lamanya!

Saya mulai ke dokter lagi tahun 2016 saat saya pulang ke Indonesia untuk liburan. Saya melakukan scaling di klinik teman SMA saya Razaq yang telah menjadi dokter gigi, dan menambal gigi di dokter gigi langganan almarhumah mama saya.

Singkat cerita, saya mendapat kesimpulan bahwa ternyata scaling dan khususnya tambal gigi itu cukup menyenangkan dan tidak sakit, karena memang saya melakukan penambalan untuk pencegahan saja, bukan pengobatan. Tapi kenapa harganya mahal, ya, hiks.

Saya merasa di Indonesia harga dokter gigi cukup mahal karena saya tidak punya asuransi untuk ke dokter gigi, saya memutuskan untuk check-up selanjutnya saya akan melakukannya di Jepang saja, dengan asuransi perusahaan. Oh ya, di Jepang saya hanya perlu membayar biaya kesehatan 30% saja. Dengan harga tersebut, kadang harga ke dokter menjadi lebih murah di Jepang ketimbang di Indonesia.

Saya selalu berusaha sebaik mungkin merawat gigi saya, dan saya selalu bangga dengan gigi putih saya. Saya selalu menyikat gigi sepenuh hati siang dan malam. Namun apa mau dikata, di suatu Jumat dini hari di minggu-minggu akhir bulan April 2016, saya terbangun karena rasa sakit pada rahang bawah saya.

IMG_7152

Senyum pep**den dengan gigi putih yang tidak putih-putih amat 😀

Sakitnya mengganggu tidur saya dan kerja saya. Sebagai penanggulangan sementara,saya disarankan teman-teman kantor untuk minum Bufferin (obat migrain) sebelum saya ke dokter gigi rekomendasi bos saya, yang mana saya langsung pergi keesokan harinya.

Di klinik, saya bilang kepada staff: “Ichiban oku no ha ga itai desu” (gigi paling pojok sakit). Meskipun saya tidak ada reservasi hari itu, saya tidak dibiarkan menunggu lama.

Dokter memeriksa gigi saya, foto X-Ray rahang saya diambil (alatnya berputar mengelilingi kepala saya, so cool!), dan saya ditunjukkan foto gigi saya. Sewaktu saya lihat, everything looked fine! Tidak ada yang miring atau bertingkah. Jadi kenapa gigi saya sakit? Ternyata gigi geraham bungsu saya di kiri belakang tumbuh miring sedikit, sedikiiiit sekali, mungkin 2 derajat, dan itu menyenggol gigi geraham saya yang lain.

Dokter bilang, ini harus dicabut. Tapi tidak bisa segera dicabut karena mulai minggu ini sudah masuk golden week (libur panjang di Jepang), jadi harus dicabut setelah golden week. Saya membatin, jadi saya harus menahan sakit ini hingga 2 minggu? Oh noooooooooo.

Dokter saya memberikan resep painkiller bernama Loxonin dan antibiotik. Dan loxonin ini, it worked like magic!! Hands down the best painkiller ever! Bahkan rasa sakit di hari pertama menstruasi saya juga ikutan hilang, haha. Satu tablet bisa menghilangkan rasa sakit selama 8 jam. Jadi selama seminggu, saya harus minum 3 kali sehari, demi agar saya bisa beraktivitas lagi.

Saya dijadwalkan cabut gigi minggu kedua april. Dan sebelum hari pencabutan, saya datang 3 kali untuk check up.

Jepang memang terkenal dengan dokter giginya yang suka menyuruh pasien bolak-balik. Banyak foreigner yang tidak suka, karena mungkin di negara mereka proses lebih cepat dan biaya jadi lebih murah. Alasan saya disuruh bolak-balik adalah selain untuk pengecheckan rutin, klinik yang saya datangi tidak bisa memberi saya resep painkiller lebih dari 10 biji tiap resep. Jadi alhasil tiap 3 hari sekali saya harus mendapat resep baru, sekalian pemeriksaan dan pemberian obat di tempat.

Harga per datangnya menurut saya tidak terlalu mahal. Jika dengan obat, saya perlu membayar 360 – 640 yen. Jika tanpa resep, hanya 150 yen. 150 yen! Tidak sampai 20 ribu rupiah! Murah banget kan! Dan karena dokternya sudah tua, plus pasiennya yang baaaanyak banget, saya entah kenapa merasa sangat aman, hehehe.

Oke, mungkin sampai disini dulu part pertama. Di part kedua, saya akan menceritakan the real horror of tooth removal, hahahaa. Just kidding! See you in the next post!

-Bayu Bella Rakhmadyah-

I’m Back!

Halloo semuaa!

Mohon maaf sudah vakum sekian lama. Tidak disangka kuliah master kemarin begitu sibuknya. Begitu pula awal-awal bekerja di Jepang. Jadi yang e-mail dan comment-nya tidak terjawab, mohon maaaaaaff!! I’m really sorry.

Saya sudah berniat untuk memulai menulis kembali mulai saat ini. Jadi tunggu postingan saya selanjutnya ya!

Love,
Bella

Best Friends’ Weddings

Tanggal 22 Februari tahun ini sahabat saya Satya Nandhiwardhana akan menikah. Tahun depan rencananya sahabat saya yang lain, Setyadi Pratama juga akan menikah. I’m feeling old now, haha.

Saya sungguh turut berbahagia bahwa mereka telah menemukan belahan jiwanya. Semoga Allah memudahkan semuanya untuk mereka.

Lucunya, justru sahabat-sahabat saya yang laki-laki yang menikah duluan, yang mana mereka sebenarnya 1 hingga 2 tahun lebih muda dari saya ^_^

Kadang saya bernostalgia melihat ke belakang. Sahabat itu seperti jodoh. Tak tahu di mana dan kapan bertemunya, tak disangka-sangka, tak direncanakan, tapi ikatan yang terbentuk begitu kuatnya.

Uniknya, kami bukanlah orang-orang yang merasa perlu mengikrarkan setiap waktu “kita bestfriend ya”, “kita sahabatan ya”, tak perlu validasi, tapi justru hubungan pertemanan yang seperti ini yang lebih langgeng, yang baik, dan yang membaikkan.

Sekali lagi selamat Satya dan Adi. Wish you all the best!

-Bayu Bella Rakhmadyah-

Kebiasaan yang Muncul Setelah Beberapa Waktu Tinggal di Jepang

Berikut adalah kebiasaan saya (dan mungkin banyak foreigner lain) yang muncul setelah beberapa tahun tinggal di Jepang.

 

1. Check prediksi cuaca

Selama saya hidup di Indonesia, saya tidak pernah sama sekali repot-repot memikirkan cuaca. Buat saya (dan mungkin orang Indonesia lainnya?), cuaca di Indonesia itu jelas. Temperaturnya tidak berubah banyak, dan perubahannya tidak memberikan dampak apapun terhadap saya. Di musim hujan tidak perlu repot2 mengecheck apakah hari itu hujan atau tidak, karena hampir pasti setiap hari akan hujan, jadi praktisnya saya akan membawa payung lipat setiap hari kalau-kalau hujan turun. Lupa bawa payung di hari hujan? Tinggal berteduh sebentar di pinggir jalan, atau pulang hujan2an. No big deal!

Tapi di Jepang, cuaca bisa berubah dengan drastis, baik temperatur, angin, maupun presipitasi. Dan di Jepang, akurasi perkiraan cuaca sangat tinggi karena terdapat 1500 stasiun observasi cuaca dan iklim di seluruh Jepang, dibandingkan Indonesia yang masih kurang dari 200 (semoga semakin bertambah ya mulai sekarang).

Hujan bisa saja datang setelah sebulan tak ada hujan sama sekali, dan terkadang hujan hanya di jam2 tertentu saja, seperti hanya di sore hari atau di malam hari. Jika hujan diperkirakan turun hanya di siang hari dan kebetulan jadwal saya siang hari adalah belajar di perpustakaan, maka saya tak perlu bawa payung saat berangkat ke kampus. Jika hujan diperkirakan turun sore hingga malam, maka saya tidak akan membawa sepeda ke kampus karena saya lebih memilih pulang berjalan kaki di saat hujan.

Perubahan temperatur akan mempengaruhi pakaian apa yang saya pakai. Jika temperaturnya 10/2, maka saya cukup pakai jaket seperlunya. Tapi jika temperaturnya 7/-2, saya perlu pakai jaket ekstra tebal karena di malam hari akan dingin sekali.

Di Jepang, Checking Weather Forecast is A Big Deal!

 

2. Check rute perjalanan atau peta

You just can’t live without transportation route application! Entah itu Google maps atau aplikasi atau website khusus untuk jadwal kereta, bus, dan pesawat. Alasannya adalah karena semua jadwal transportasi apapun bisa diakses di Jepang, sehingga kita bisa memperkirakan waktu tempuh untuk pergi ke suatu tempat, serta transportasi apa saja yang kita perlukan, beserta tempat transfernya. Sangat nyaman sekali jalan-jalan di Jepang! Dan Jepang adalah negara yang sangat tepat waktu, dan sibuk. Kadang dalam sehari orang bisa punya 2 hingga 3 appointment. Jadi say no to santai-santai. Jika ada acara penting seperti meeting atau interview, mengechek rute perjalanan adalah wajib untuk menghindari keterlambatan!

 

3. Bilang “E…”

Saat terkejut, orang Jepang akan bilang “Eee??”. Saat mendengarkan kita berbicara, orang Jepang akan bilang “Ee…” (seperti “Ooo” di Indonesia). Saat berpikir, mereka juga akan bilang “Ee..” atau “E..to…”. Dan sangat mudah sekali foreigner ketularan kebiasaan orang Jepang yang satu ini.

 

4. Check jadwal sholat (menyesuaikan dengan jadwal kuliah)

Karena merupakan negara 4 musim, jadwal terbit dan terbenam matahari sangat fluktuatif di Jepang. Di musim panas, waktu subuh adalah sekitar jam 3.15 dan waktu maghrib adalah sekitar 19.15. Di musim dingin, waktu subuh adalah 6.00 dan waktu maghrib adalah sekitar 16.50. Dan waktunya berubah tiap menit tiap hari. Jadi sangat riskan sekali kebablasan waktu shalat, terutama Ashar, saat kuliah di Jepang.

 

5. Pengucapan Jang-lish

Orang Jepang punya cara pengucapan kata-kata bahasa Inggris sendiri, seperti orang Indonesia. Seperti misalnya hamburger, mereka mengucapkannya hambaagaa. Terkadang saat berbicara dengan orang Jepang, mereka kurang bisa menangkap kata-kata bahasa Inggris, sehingga saya tiap kali harus berusaha mengatakan sebagaimana mereka biasa mengatakan. Akhirnya saat saya berbicara dengan bahasa Inggris dengan teman foreigner saya, saya jadi lupa sama sekali bagaimana cara mengucapkan dengan benar dalam bahasa Inggris 😀

 

6. Membungkuk atau menganggukkan kepala saat menyapa

Di Jepang, membungkuk adalah cara menunjukkan rasa hormat. Mengangguk, seperti di Jawa, biasa digunakan saat menyapa orang. Setelah lama tinggal di Jepang, orang pasti jadi ikut-ikutan kebiasaan yang satu ini. Sampai suatu hari saat saya bertemu dengan orang tua teman saya dari Amerika, saya spontan membungkuk dan teman saya mengomentari “Look, you’re bowing just like Japanese” 😀

 

7. Mencatat pengeluaran harian

Dengan pemasukan pas-pasan dan biaya hidup yang tinggi, saya jadi belajar mengatur pengeluaran saya. Saya biasanya menggunakan aplikasi finansial pribadi dari Apple Store untuk tahu kemana saja uang saya saya belanjakan dan untuk mengatur strategi untuk bulan berikutnya.

Gaya hidup orang Jepang memang mewah, tapi orang Jepang adalah orang yang hemat. Kalau orang Jepang saja hemat, saya apalagi, harus super hemat! 😀

 

8. Bilang alasan dulu baru maksud

Dalam bahasanya, orang Jepang selalu mengutarakan maksudnya di akhir, kebalikan dengan kultur barat atau kultur Indonesia. Ilustrasinya adalah sebagai berikut:

*Kampus*

Di Indonesia : Pak, saya boleh ijin tidak masuk minggu depan? Soalnya saya mau pulang kampung pak.

Di Jepang : Pak, karena minggu depan saya mau pulang kampung, saya ingin ijin tidak masuk minggu depan…

*Service center*

Di Indonesia : Mas, kira-kira di sini bisa dapet servis ganti baterai nggak? Soalnya baterai hape saya sering panas, trus sering nge-drop.

Di Jepang : Jadi begini. Akhir-akhir ini entah kenapa baterai saya sering panas. Trus baterainya juga cepat habis. Kira-kira bisa nggak ya saya ganti baterai gratis…

*Dengan Teman*

Di Indonesia : Eh, boleh pinjem bukunya sehari ga? Besok ada PR harus dikumpulin, ga sempat beli nih hari ini, mau fotokopi aja.

Di Jepang : Oh ya, besok kan aku ada PR yang harus dikumpulin. Trus kalau beli buku hari ini udah ga sempat. Kira-kira boleh ga pinjem buku kamu hari ini aja buat fotokopi…

 

9. Tanya jadwal dulu sebelum mengajak teman pergi

Everyone in Japan is freaking busy!

Sewaktu kuliah di Indonesia, sangatlah mudah mengajak teman untuk nge-random malam hari mencari tempat makan enak. Atau kita bisa dadakan bilang “Eh, besok ke mall yuk”. Tidak ada masalah.

Di Jepang, itu hampir mustahil. Untuk mengajak orang Jepang pergi ke suatu tempat, kita harus booking waktu dia dulu. Untuk bisa pergi bersama, menunggu 2-3 minggu adalah hal yang wajar. Bahkan dengan hostfamily saya, untuk pergi bersama, kami perlu menentukan jadwal 2-3 bulan sebelumnya.

Dan orang Indonesia, termasuk saya, juga mau tidak mau menjadi seperti orang Jepang yang harus menjadwalkan waktu jauh hari sebelumnya untuk melakukan aktivitas bersama. Ini karena biasanya karena sudah sibuk di hari kerja, kami harus menunggu weekend untuk bisa melakukan aktivitas yang kami inginkan. Jadi jika tiba2 ada teman yang ingin main bareng, tunggu dulu ya, gimana kalau 2 minggu lagi?

 

10. Teledor

Jepang adalah negara dengan tingkat keamanan yang sangat tinggi, apalagi di daerah saya di Osaka Utara. Di kantin kampus, bahkan para mahasiswa membooking meja kantin dengan meletakkan iPhone mereka. Tidak akan ada yang mencuri karena percuma saja, barang curian biasanya tidak akan bisa dipakai karena umumnya mudah dilacak polisi. Hilang pun, yang kehilangan sudah punya asuransi, jadi bisa mendapatkan barang yang sama dengan membayar sedikit.

Saya sudah 2 kali ketinggalan handphone dan 2 kali ketinggalan dompet di department store, dan semua kembali dengan selamat. Coba tanyakan teman Indonesia kalian di sini, pasti semua pernah mengalami hal yang sama. Tapi entah kenapa pengalaman ini tidak membuat saya semakin waspada. Kadang tanpa sadar, di cafe saya meletakkan begitu saja laptop, dompet dan iPhone, sementara saya ke toilet. Alhamdulillah tidak pernah terjadi apa-apa. Kebiasaan ini tentu bahaya sekali jika saya bawa ke Indonesia atau ke negara lain ya.

 

-Bayu Bella Rakhmadyah-

Things that I learned in My Mid 20’s

  1. Loneliness means an opportunity to improve yourself. (Good news for us!)
  2. The best prayer is not “give me ease”, but instead, “give me strength”.
  3. Pray, and miracles will happen. (Only if you believe … 😉 )
  4. See love through actions, not words.
  5. Those who really love you will stay. (Don’t get it? It’s okay, someday you’ll 😀 )
  6. There is always be the good and the bad in this life. (No need to be so surprised)
  7. Never argue when you’re not paid enough. (Save your argument only for important occasions)
  8. Life changes, fast. (Sorry, you like it or not, it will happen)
  9. It’s totally okay to be not good at something. (Why? Because we’re HUMAN! Yeay!)
  10. Only stay with people who can help you to be a better person. (Only if you want to be a better person though…)
  11. We are physically perfect, but indeed we need to work out our personality.
  12. I’m awesome 😀 (And you’re awesome too! 😉 )

-Bayu Bella Rakhmadyah-

Don’t be afraid of quiet place

Recently I’ve been complaining a lot about my school life in Japan, since I felt it’s too busy, lack of social life, and too much stress. And on top of that, about one month ago, I’ve got a letter from the company that I would be working at about my work place. They said they were gonna put me in a small city in the north of Japan.

Great.

I don’t have the problem with the people or the branch though. It is just the place that is too far away from the crowd that I’ve been needing all this time.

And probably my frustration of the life recently was reflected a lot in my behavior recently that, after a long argument in presentation, suddenly my Sensei mention about that and give me some advice. I remembered he said:

“Don’t think about loneliness. Quiet place is the best place to learn and to improve yourself, to reach your full potential.”

I almost burst into tears at that time, because what he said and my subliminal reaction was a proof that I’ve been carrying this emotionally-unresolved-matter for a while.

But I guess he’s right. That is what I’m supposed to do, improving myself.

I think it is time for me to accept everything that has been going on, accept this fate.

And working on to be the person who I really want. To be the best of me.

Don’t be afraid of quite place, in which its silence will help you find the best of you 🙂